Perwakilan Bank BNI Cabang Tokyo, Dyah Paramita Novia Putri memberikan sedikit bocoran mengenai produk yang laku diekspor ke Jepang. Dyah menyatakan produk makanan dan minuman alias food and beverage memiliki peluang besar menembus pasar Jepang.
"Untuk usaha yang memiliki peluang besar bagi UMKM untuk melakukan penetrasi ke pasar jepang adalah food and beverage, di antaranya produk halal," ungkap Dyah dalam Festival Ide Bisnis Xpora yang diselenggarakan detikcom dan BNI, Selasa (3/8/2021).
Dia mengatakan salah satu cara memasarkan produk makanan dan minuman adalah melalui usaha-usaha para diaspora yang sudah ada di Jepang. Setidaknya, saat ini ada 64 restoran orang Indonesia yang memiliki potensi untuk diajak kerja sama para pelaku UMKM.
"Berdasarkan info yang kami himpun, ada sekitar 64 restoran di Jepang yang dijalankan diaspora Indonesia, ini peluang bagi UMKM untuk bersinergi dengan diaspora di Jepang," papar Dyah.
- PT RIFAN FINANCINDO | Sosialisasi Perdagangan Berjangka Harus Lebih Agresif: Masih Butuh Political Will Pemerintah
- PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rifan Financindo Berjangka Gelar Sosialisasi Cerdas Berinvestasi
- PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA | PT Rifan Financindo Berjangka Buka Workshop Apa Itu Perusahaan Pialang, Masyarakat Harus Tahu
- RIFAN FINANCINDO | Kerja Sama dengan USU, Rifan Financindo Siapkan Investor Masa Depan
- PT RIFAN | Bursa Berjangka Indonesia Belum Maksimal Dilirik Investor
- RIFANFINANCINDO | Rifan Financindo Intensifkan Edukasi
- RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi
- RIFAN | Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai
- PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Sharing & Diskusi Perusahaan Pialang Berjangka PT. RFB
- PT. RIFAN | PT Rifan Financindo Berjangka Optimistis PBK Tetap Tumbuh di Medan
- RIFAN BERJANGKA | Bisnis Investasi Perdagangan Berjangka Komoditi, Berpotensi tapi Perlu Kerja Keras
- PT. RIFAN FINANCINDO | JFX, KBI dan Rifan Financindo Hadirkan Pusat Belajar Futures Trading di Kampus Universitas Sriwijaya
- PT RIFANFINANCINDO | RFB Surabaya Bidik 250 Nasabah Baru hingga Akhir Tahun
- PT RFB | PT RFB Gelar Media Workshop
- PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA | Mengenal Perdagangan Berjangka Komoditi, Begini Manfaat dan Cara Kenali Penipuan Berkedok PBK
Potensi produknya sudah ada, lalu apa saja tipsnya agar UMKM bisa melakukan ekspor ke Jepang?Bukan cuma makanan dan minuman saja, beberapa produk lain yang bisa diekspor adalah produk furniture, handicraft, dan produk sektor pertanian.
1. Ketahui Karakteristik Pasar Jepang
Dyah mengatakan hal yang disiapkan pelaku UMKM yang pertama adalah mengetahui karakteristik pasar di Jepang.
Pelaku UMKM sebaiknya banyak melakukan riset mengenai selera dan kebutuhan masyarakat jepang, sehingga bisa menyesuaikan produknya. Sedikit bocoran dari Dyah, untuk produk olahan makanan ternyata orang Jepang tidak terlalu suka yang rasanya pedas.
"Misalnya untuk makanan, masyarakat jepang tidak suka yang spicy. Lalu kalau furniture desainnya yang simpel dan ukurannya tidak terlalu besar. Selain itu untuk warna kebanyakan orang Jepang suka warna alam," papar Dyah.
2. Siapkan Kebutuhan Administratif
Pelaku usaha juga diminta bersiap melengkapi kebutuhan administratif untuk ekspor. Dyah mengatakan pelaku usaha harus melengkapi sederet dokumen izin dan legalitas usaha.
"Biasanya, setiap produk juga punya syarat administratif berbeda-beda untuk masuk ke Jepang," ungkap Dyah.
Syarat teknis dari pemerintah Jepang juga harus dipenuhi. Misalnya ketelusuran informasi barang dan bahan baku, standar kualitas produk, dan pengemasan alias packaging yang menarik.
3. Menjaga Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas
Pelaku usaha UMKM bila ingin mengekspor produknya ke Jepang harus memiliki kualitas produk yang terjaga. Dari segi ketersediaan, kuantitas produk harus selalu tersedia sesuai permintaan dari Jepang.
Kemudian, pelaku usaha juga harus siap melakukan prosedur ekspor secara kontinu bila terus-terusan mendapatkan permintaan dari Jepang.
"Produk juga harus terjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitasnya. Jadi jangan sampai kalau di-order lagi pelaku usaha tak bisa memenuhi pesanan ekspor, nanti bisa ditinggal dan nggak diajak kerja sama lagi sama orang Jepang," ungkap Dyah.
Dyah memberikan sedikit bocoran juga mengenai karakteristik orang Jepang dalam berbisnis, menurutnya orang Jepang akan sulit memberikan kepercayaan kepada orang lain. Maka dari itu deal bisnis kemungkinan perlu proses panjang.
"Faktor trust bagi mereka ini jadi paling penting, maka dari itu biasanya untuk deal bisnis perlu proses panjang," kata Dyah( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )
Lihat : Rifan Financindo
Sumber : finance.detik















0 comments:
Post a Comment